07 December 2017

Udhik-udhik, Tradisi Unik Sekaten Jogja



Minggu kemarin saya berkesempatan melihat langsung tradisi udhik-udhik gelaran Kraton Ngayogyakarta. Tradisi udhik-udhik ini merupakan rangkaian acara Perayaan Sekaten. Tradisi udhik-udhik ini merupakan bagian dari Kondur Gangsa.

Kondur gongso sendiri merupakan prosesi pemulangan kembali dua gamelan pusaka yakni Kyai Gunturmadu dan Kyai Nagawila dari Pagongan Masjid Gedhe ke dalam Keraton, setelah selama 5 hari gamelan di ditempatkan dan dibunyikan di Pagongan Masjid Gedhe Kauman.

Sebelum prosesi Kondur Gangsa dimulai, Sri Sultan Hamengkubuwono X akan menyebarkan udhik-udhik di Pagongan Lor dan Kidul masjid Gedhe. Udhik-udhik yang disebar terdiri dari beras, bunga dan uang logam.

Sejak sore hari masyarakat mulai memadati area depan Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Kami sengaja datang ke Masjid Gedhe lebih awal untuk memastikan kami bisa masuk ke dalam Masjid Gedhe Kauman, secara yang kami tahu pintu masuk terdekat yang dari depan masjid.

Setelah masuk kedalam, kita berkeliling sebentar dan menuju ke Pagongan Lor menunggu prosesi udhik-udhik tiba. Kita sempet masuk dan duduk-duduk didalam Pagongan yang ternyata didalamnya sudah lumayan penuh orang. Sebelum akhirnya kita semua harus meninggalkan ruangan tersebut.



Saya sempat berbincang dengan beberapa orang saat sama-sama duduk di dalam Pagongan. Ternyata mereka datang dari luar kota khusus untuk menunggu udhik-udhik dari Sultan. Ada yang dari semalem sudah sampai di Masjid Gedhe, dan mereka rela menginap di masjid hanya untuk menunggu udhik-udhik dari Sultan. Ibu yang berasal dari Pati bercerita kalau dia bersama suaminya selalu datang tiap tahun untuk menunggu prosesi ini. Mereka kebanyakan datang berombongan dari luar kota dengan bis atau angkutan lainnya.

Karena masih lama acaranya dan perut sudah minta diisi alias lapar, kita akhirnya makan dulu. Kita memutuskan untuk makan sego gurih. Nah katanya, kita belum bisa dikatakan nonton sekaten kalau belum mencicipi sego gurih.

Sego gurih merupakan menu spesial khas Jogja yang ada secara khusus cuma saat acara  Miyos Gangsa (keluarnya gamelan dari Keraton menuju Masjid Gedhe) sampai Kondur Gangsa.

Sego gurih adalah nasi yang dimasak dengan santan, garam dan daun salam. Menurut penuturan ibu penjualnya, untuk memasak sego gurih memerlukan beberapa tahapan sehingga menghasilkan nasi yang pas dan tidak lembek. Prosesnya hampir mirip dengan membuat nasi kuning.



Untuk komposisi sego gurih cukup banyak dimana terdiri dari nasi gurih, kedelai hitam, kedelai putih, kacang tanah, bawang goreng, ebi goreng, sambal goreng krecek, daging ingkung suwir, telur goreng, telur bumbu opor, kemangi, irisan kobis, mentimun serta peyek atau krupuk. Karena jumlah lauk ada bermacam-macam penyajiannya dalam sego gurih hanya sedikit demi sedikit sehingga tidak terlihat jenis lauk yang dominan.

Sego gurih lengkap dengan telur bumbu opor bisa didapatkan dengan harga Rp. 13.000,-. Kalau tanpa telur bumbu opor cukup membayar Rp. 7.000,-.

Setelah perut kenyang dan adzan magrib tiba, kita sholat dulu. Tadinya bingung lewat mana kedalam masjidnya karena pintu masjid yang dari depan ditutup dan dikunci. Ternyata kita harus memutar lewat pintu sebelah utara untuk masuk ke masjid.

Sekembalinya dari masjid, pelataran Masjid Gedhe semakin rame oleh orang yang berdatangan untuk menyaksikan prosesi udhik-udhik dari Sultan. Selepas isya, prajurit Keraton yang mengenakan baju warna merah serta membawa tombak mulai tampak datang dihalaman Masjid Gedhe Kauman, dan mereka langsung bersiap membuat pagar betis bersiap menyambut kedatangan Sultan.



Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba. Sekitar pukul 8 malam Sri Sultan Hamengku Buwono X tiba di Pelataran Masjid Gedhe. Masyarakat yang tadinya masih rapi, ketika Sri Sultan tiba seketika berdesak-desakan maju ke depan Pagongan agar bisa mendapatkan udhik-udhik dari Sultan. Mereka berebutan untuk mendapatkannya, bahkan ada nenek-nenek yang hampir jatuh dan terhimpit saat berebutan. Tika yang berada didekat nenek tersebut meminta tolong polisi untuk membantu nenek tersebut. Akhirnya si nenek dibopong keluar dari kerumunan orang.

Saya sendiri tidak ikut dalam rebutan udhik-udhik Sultan, walaupun sebenarnya ada koin yang mengarah kesamping saya, karena kurang cepat mengambilnya akhirnya yang beruntung mendapatkanya yakni prajurit keraton samping tempat saya berdiri.
Setelah menyebar udhik-udhik Sri Sultan menuju ke serambi Masjid Gedhe untuk mendengarkan riwayat Nabi Muhammad SAW. Saya pun mencari saudara saya. Dan ternyata si kakak yang mendapatkan satu koin dari Sultan.

Perayaan Sekaten tahun ini istimewa karena bertepatan dengan tahun Dal (tahun yang datang setiap 8 tahun sekali). Biasanya setelah selesai acara pembacaan riwayat Nabi Muhammmad SAW, Sri Sultan Hamengku Buwono X akan langsung meninggalkan masjid menuju ke keraton.

Di tahun Dal, Sri Sultan akan menjejakkan kaki ke tembok bata di pintu selatan Masjid Gedhe sebelum menuju ke keraton. Upacara ini dikenal dengan Njejak Beteng.


Berhubung kakak yang sudah meminta untuk segera pulang akhirnya kita keluar masjid memutar lewat jalan perkampungan warga karena pintu depan dan utara masih dikunci. Dijalan dekat pintu keluar masjid bagian selatan kami sempet tertahan susah untuk berjalan karena banyaknya orang yang berkumpul menunggu Sri Sultan untuk Njejak Beteng.





Latest
Next Post

post written by:

0 comments:

Monggo dipersilahkan kalau mau komentar