Kampung Kolang-Kaling dan Trabas Trail Desa Wisata Jatirejo Semarang

Posted by


Kolang-kaling, buah yang menjadi primadona saat bulan Ramadan, yang sebentar lagi tiba. Kolang-kaling seakan menjadi menu wajib untuk berbuka puasa dalam berbagai macam olahan kreasi kuliner untuk berbuka puasa. Biasanya kolang-kaling ada dalam kolak, campuran es atau manisan.

Kolang-kaling sendiri berasal dari pohon aren atau enau (Arenga Pinnata). Kolang-kaling memiliki khasiat dan manfaat yang banyak untuk kesehatan. Kolang-kaling kaya akan kandungan vitamin A, Vitamin B dan Vitamin C, selain itu juga banyak mengandung protein dan karbohidrat, serta berbagai mineral seperti potasium, besi dan kalsium.

Di kota Semarang, ada sentra pembuatan kolang-kaling yakni di desa Jatirejo yang dikenal dengan nama Kampung “KAKOLA” Kampung Kolang-kaling Desa Wisata Jatirejo. Kemarin kami diajak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang beserta Badan Promosi Pariwisata Kota Semarang (BP2KS) untuk mengunjunginya dalam rangkaian Famtrip Blogger 2017 dengan tema Telusur Pesona Deswita Semarang. Kampung KAKOLA sendiri berada di desa Jatirejo RT 03 RW 01 Kelurahan Jatirejo, kecamatan Gunungpati Kota Semarang. 


Begitu turun dari bus dan masuk ke lokasi, kita langsung disuguhi minuman dari kolang-kaling beserta aneka gorengan dan cemilan, padahal sebelum kesini kita baru saja selesai makan siang di dermaga Suko Makmur Waduk Jatibarang. Walaupun perut masih kenyang, tak apalah menikmatinya... toh mereka sudah sibuk menyiapkannya.



Untuk menjadikan buah dari pohon aren menjadi kolang-kaling ternyata butuh proses yang panjang dan melelahkan lho...

Prosesnya pertama dimulai dari pemanen dari pohon, dimana agar mendapatkan hasil kolang-kaling yang bagus dan empuk harus dari buah yang masih muda dan tidak terlalu tua. Setelah buahnya dipetik, buahnya harus dilepaskan dahulu dari tangkai/tandannya  kemudian harus direbus sekitar 2-3 jam dalam tungku panas agar buahnya bisa dikupas dan didapatkan buah kolang-kalingnya.



Setelah proses perebusan dan pengupasan kolang-kaling harus direndam dulu selama satu hari satu malam baru bisa dipipihkan. Menurut penuturan salah satu ibu yang bekerja disini, dalam sehari satu orang bisa memipihkan kolang-kaling sekitar tiga ember drum. Satu ember drum beratnya sekitar 25 kilogram. Untuk jam kerjanya sendiri menurut pengelola dimulai sekitar jam 7 atau 8 pagi sampai jam 4 sore, fleksibel mengikuti permintaan, tetapi terkadang kalau permintaan sedang banyak-banyaknya seperti menjelang bulan puasa pada saat ini, mereka  bisa menambah jam kerjanya untuk memenuhi pesanan.


Kolang-kaling yang sudah dipipihkan kemudian direndam didalam air, proses perendaman bisa memakan waktu antara 2-3 hari lamanya untuk mendapatkan kolang-kaling yang siap untuk dijual. Dalam proses perendaman tersebut kolang-kaling perlu diaduk-aduk dan airnya tiap hari harus diganti agar kolang-kaling yang dihasilkan bagus dan empuk.


Selain kolang-kaling, ibu-ibu disini juga menanam empon-empon seperti jahe, kunyit, kencur dan masih banyak yang lain. Ibu-ibu juga membuat aneka keripik untuk dijual sebagai oleh-oleh khas desa wisata Jatirejo.



Menurut penuturan ibu  Ninik yang menjabat Sekretaris Pokdarwis Jatilanggeng, saat ini desa Jatirejo masih menunggu turunnya SK dari Walikota Semarang yang menyatakan bahwa desa Jatirejo menjadi Desa Wisata.

Setelah  kita melihat proses pembuatan kolang-kaling, kemudian kita diajak untuk menikmati pemandangan dari sudut yang lain Waduk Jatibarang dengan cara mengendarai motor trail yang dikemas dengan nama Trabas desa wisata Jatirejo. Bagi yang berani mengendari motor trail sendiri dipersilahkan, kalau saya sendiri sih membonceng saja...


Awalnya jalan yang dilalui merupakan jalan desa yang berpaving. Setelah jalan berpaving habis barulah melewati medan yang sebenarnya. Kita diajak melewati kebun-kebun warga dengan jalanan yang menerabas semak-semak dan jalur tanah yang licin dengan turunan dan tanjakannya. Sebenernya kepikiran untuk merekamnya, namun tidak berani karena kita pegangan aja udah takut... maklum ini pengalaman pertama saya naik motor trail...

Mendekati tempat finis, motor yang saya boncengi mendadak mesinnya mati, dan itu pas dijalanan menurun yang cukup sempit. Otomatis motor yang dibelakangnya ikut berhenti. Saya pun memutuskan untuk jalan kaki saja karena sudah dekat.


Menurut penuturan salah satu pengendara, jalur yang kami lalui masih merupakan track yang ringan belum yang extream. Kalau yang ekstream jalurnya bisa langsung sampai ke bagian bawah Waduk Jatibarang, namun karena sebelumnya turun hujan dan jalur menjadi licin sehingga berbahaya kalau dilewati.

Habis dari desa wisata Jatirejo, kemudian kita menuju ke hotel Pandanaran untuk cek in dan istirahat sebentar karena malamnya secara khusus kita diundang untuk menghadiri Resepsi Hari Jadi ke-470 Kota Semarang di Balaikota Semarang.

Selamat Ulang Tahun Kota Semarang yang ke-470. #SemarangHebat







Blog, Updated at: Mei 12, 2017

2 komentar:

  1. itu foto yang ada saya adalah adegan setelah tragedi motornya Zia tidak bisa nanjak dan jatuh lima centimeter dari kepala saya! bwahahaha

    BalasHapus
  2. Untuk pertama kalinya aku nyobain motoran pake motor balap kayak gitu. Mana sisi kanan jurang, dan penumpang di belakang jejeritan mulu bikin gugup -lalu aku dipelototin si jejakjelata hehe.

    Semoga bisa jumpa lagi di perjalanan selanjutnya mbak :)

    omnduut.com

    BalasHapus

Monggo dipersilahkan kalau mau komentar

Anda Pengunjung ke :

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengulas Segala Hal tentang Traveling Mulai dari Tempat Wisata, Perjalanan hingga Serba Serbi Traveling.

Recent comments

Artikel Favorit

Solo Pluffy, Klangenan Baru Kota Solo

Solo merupakan kota budaya, kota wisata dan kota kuliner yang kaya akan beragam jenis makanan yang kaya rasa dan menggugah selera unt...

Travel & Tekno

Most Popular