Skip to main content

Feeding Monkey dan Cerita Dibalik Nama Gua Kreo


Pagi-pagi sebelum adzan subuh berkumandang, kami pun sudah mulai bersiap berangkat menuju kota Semarang untuk mengikuti acara Famtrip Blogger 2017 yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kota Semarang dan Badan Promosi Pariwisata Kota Semarang (BP2KS). Selesai sholat subuh dan berkemas kita segera meluncur menuju ke stasiun. Ditemani kabut yang cukup pekat pagi ini motorpun melaju kearah stasiun Purwosari. Sampai distasiun, saya buru-buru menuju ke loket pembelian tiket dan memesan tiket untuk keberangkatan ke Semarang. Dan ternyata..., sekarang stasiun keberangkatan kereta Kalijaga dari Solo cuma dari stasiun Solo Balapan, cepat-cepatlah lari keparkiran  mengambil motor dan segera meluncur ke stasiun Solo Balapan.

Dengan agak tergesa kita menuju ke stasiun Solo Balapan, setelah memarkir kendaraan buru-buru kita ke loket karcis. Cukup membayar Rp. 10.000,- perorang untuk perjalanan Solo – Semarang. Untunglah tidak ketinggalan kereta.., ini perjalanan pertama ke Semarang naik kereta. Tuut tuuuuut... tepat pukul 5.20 wib, kereta berangkat dari stasiun Solo Balapan.

Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam akhirnya tiba juga di stasiun Poncol. Kami telah ditunggu oleh tim penjemput yakni mba Nila dari Asita Semarang, di mobil jemputan sudah ada temen blogger dari Jogja dan Bima yang  sudah duluan tiba di Semarang. Kita langsung diantar ke Soto Pak Min untuk sarapan. 

Perut kenyang dan siap untuk trip hari ini. Temen-temen lainnya juga sudah tiba dan sudah selesai sarapan. Kini saatnya, kita meluncur ke Taman Wisata Waduk Jatibarang karena kita telah ditunggu oleh monyet-monyet yang kelaparan... kasian kalau kelamaan menunggu....

Yap, trip pertama kita yakni “feeding monkey”. Sekitar tiga puluh menit perjalanan, bus yang mengantar kita ke Taman Wisata Waduk Jatibarang tiba. Begitu turun dari bus kita langsung disambut oleh monyet-monyet ekor panjang penguasa waduk jati barang dan juga Gua Kreo. Mereka tak sabar menanti kita...

Disana sudah dipersiapkan bambu yang siap didirikan oleh pengelola semacam untuk panjat pinang yang berisi  berbagai macam makanan dan minuman untuk monyet ekor panjang. Monyet-monyet tersebut sudah tidak sabar menunggu sampai bambunya berdiri, mereka sudah mulai menyerbu makanan yang ada.

Bambu pun berdiri tegak, saatnya kita menonton atraksi panjat pinang monyet. Awalnya masih malu-malu, tetapi begitu ada yang memulai naik ke bambu, monyet-monyet yang lainnya langsung ikut menyusul menyerbu makanan dan minuman.

Puluhan kera ekor panjang sedang panjat pinang

Moyet/kera ekor panjang sedang meniti tali menuju bambu
untuk menikmati makanan dan minuman yang sudah disediakan

Salah satu monyet/kera ekor panjang sedang memberi makan anaknya

Temen-temen blogger peserta famtrip blogger 2017 sedang mengabadikan
atraksi feeding monkey

Melihat kelincahnya mereka naik-turun bambu dan tali-talinya, rasanya luar biasa, apalagi beberapa monyet yang naik-turun sambil mengendong anak mereka.  Ini pengalaman pertama saya melihat panjat pinang monyet. Ada juga monyet yang hanya menunggu dibawah berharap kemurahan hati teman-temannya yang diatas.

Tentunya atraksi ini tidak bermaksud untuk mengeksploitasi monyet ya, tapi sebaliknya yakni memberi mereka makan sesuai kebutuhan, karena kalau tidak dilakukan monyet-monyet ini akan menjarah kebun warga. Disini terdapat ratusan monyet ekor panjang yang terbagi menjadi tiga kelompok besar tutur pengelola. 

Trip hari pertama tanggal 5 Mei 2017 bertepatan dengan hari Jum’at, sambil menunggu temen-temen blogger cowok yang Jum’atan, kita lanjut mengeksplor Gua Kreo. Untuk menuju kesana, kita harus berjalan menyeberang jembatan  karena Gua Kreo berada di pulau kecil di tengah  Waduk Jatibarang. Didepan jembatan kita akan disambut oleh patung monyet di kanan kirinya. Tak hanya patungnya saja, yang asli juga ikut menyambut kita...

Jalan menuju ke Goa Kreo

Tampak seekor monyet yang sedang menunggu kita di jembatan


Gua Kreo

Menurut legenda, keberadaan Gua Kreo tak terpisahkan dari Sunan Kalijaga. Konon katanya Sunan Kalijaga mencari potongan kayu dari pohon jati yang akan digunakan untuk saka guru Masjid Agung Demak yang berada di lereng bukit Gombel. Namun, sewaktu akan diambil kayu jatinya, ternyata pohon jatinya sudah tidak ada. Sunan Kalijaga terus mencari keberadaan pohon jati tersebut sampai ke hutan yang saat ini dikenal sebagai kawasan Gua Kreo. Tempat asal keberadaan pohon jati yang berpindah itu diberi nama Jatingaleh yang berarti jati berpindah.

Keberadaan pohon jati yang dimaksud ternyata letaknya berada ditempat yang sulit untuk diambil. Hingga akhirnya datanglah empat ekor kera yang bersedia membantu Sunan Kalijaga untuk mengambil kayu jati yang dimaksud. Dengan senang hati Sunan Kalijaga menerima tawaran mereka. 

Ketika Sunan kalijaga bersama sahabat-sahabatnya hendak membawa kayu jati itu ke Demak, karena akan digunakan sebagai saka guru Masjid Agung Demak, kera-kera tersebut menyatakan diri hendak ikut serta membawa sampai ke Demak. Namun karena bukan manusia Sunan Kalijaga menolaknya, sebagai balas jasanya, kera-kera tersebut dihadiahi kawasan hutan di sekitar gua. Mereka diberi kewenangan ngreho (dalam bahasa Jawa)  yang mempunyai makna untuk menjaga atau memelihara kawasan tersebut. Dari kata ngreho, nama Gua Kreo berasal, dan sejak saat itu hingga sekarang kera-kera yang menghuni kawasan ini dianggap sebagai penjaga.



Jika kita mengeksplor sampai keatas bukit, kita akan menemukan semacam petilasan dari batu, Menurut kisahnya, batu tersebut tadinya berada dibawah air waduk Jatibarang. Sebelum batu tersebut diatas sering terjadi keanehan, seperti suara gaduh dari dalam waduk. Namun batu-batu tersebut ajaibnya bisa berada diatas dengan sendirinya. Dari atas bukit kita bisa menikmati pemandangan waduk Jatibarang dari sudut yang lain.

Semacam petilasan dari batu

Dulunya merupakan tempat penyimpanan air 

In frame Tariartika  (kue jahe) dan Mia kamila (jejakjelata)

View Waduk Jatibarang dari atas bukit Gua Kreo

Perjalanan trip pertama Famtrim Blogger 2017 diakhiri dengan makan siang di dermaga Suko Makmur Waduk Jatibarang. Menurut rencana kita seharusnya memancing ikan dulu baru bisa makan siang, namun sampai disana sudah tersedia menu makan siang lengkap dengan olahan ikan waduk Jatibarang dengan ukuran yang jumbo, plus lalap dan sambalnya yang mantap. Tersedia juga aneka jus khas dermaga Suko Makmur dan juga minuman lainnya. 

Menu makan siang day 1 famtrip blogger 2017


Foto bersama peserta famtrip di dermaga Suko Makmur Waduk Jatibarang
 (Formasi nyaris lengkap kurang 2 peserta yang dari Kuala Lumpur)


Comments

  1. wah lengkap banget kisah goa kreo dan kisah monyetnya mia :)

    ReplyDelete
  2. Aku pingin makan ikannya lagi, kacang rebusnya lagi, pisangnya juga. :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Monggo dipersilahkan kalau mau komentar

Popular posts from this blog

Ini dia 7 Tempat Hits di Soloraya yang Instagramable

1. Bukit Cumbri
Nikmati keindahan sunrise dari bukit Cumbri di perbatasan Wonogiri dan Ponorogo tepatnya di desa Kepyar, kecamatan Purwantoro, Kabupaten Wonogiri. Bukit dengan ketinggian 638 mdpl ini menawarkan pemandangan yang menawan. Kamu bisa menyaksikan sunrise dengan latar bukit-bukit kecil yang mempesona. Dari wonogiri ikuti jalan menuju Ponorogo, Dari tempat parkir kita harus berjalan kaki selama 1 jam. Jalan menuju lokasi ini naik turun, namun sampai disana dijamin lelah kamu akan sirna tergantikan dengan pemandangan bentang alam nan menawan.
2. Rumah Pohon Banyu Anyep,  Jatiyoso Rumah pohon Banyu Anyep terletak di desa Wonorejo, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar. Rumah pohon ini terletak 1.500 mdpl sehingga berhawa sejuk. Ada beberapa tipe rumah pohon yang dibangun : ada yang menyerupai bentuk love dan bentuk seperti menara pandang. Dari sini kita bisa menyaksikan pemandangan indah lembah dan perbukitan serta gunung Lawu.Hutan pinus di kawasan ini semakin menambah sedap…

Tari Kolosal Adeging Kutha Solo, Upaya Mengenang Kembali Sejarah Kota Solo

Solo Pluffy, Klangenan Baru Kota Solo

Solo merupakan kota budaya, kota wisata dan kota kuliner yang kaya akan beragam jenis makanan yang kaya rasa dan menggugah selera untuk diburu dan dicari para penggemarnya. Beragam makanan khas kota Solo siap menjamu lidah anda. Sebagai kota wisata tentunya pengunjung  yang berkunjung  ke kota Solo ketika pulang akan membawa oleh-oleh.
Oleh-oleh khas kota Solo yang paling banyak dicari salah satunya adalah Intip. Kita bisa membelinya di pasar Klewer atau pasar lainnya serta hampir di setiap gerai oleh-oleh. Intip goreng sendiri merupakan cemilan yang terbuat dari kerak nasi. Proses pembuatannya yakni dengan cara menjemur nasi putih yang sebelumnya sudah masak dan kemudian dibentuk bulat pipih. Setelah dijemur, intip akan digoreng dalam minyak yang panas. Selanjunya intip yang telah digoreng dibumbui dengan gula jawa, bawang putih dan sedikit garam. Intip goreng tersedia dalam rasa dua rasa yakni manis dan gurih.
Satu lagi yang banyak dicari sebagai oleh-oleh khas Solo yakni serabi. Y…