14 April 2017

Jalan-Jalan ke Solo Indonesia Culinary Festival 2017


Solo adalah surganya kuliner. Solo mendapat predikat nomer satu sebagai destinasi kuliner di Indonesia. Berkunjung ke Solo, tak lengkap rasanya jika belum mencicipi makanan khas kota Solo. Banyak sekali kuliner khas kota Solo yang bisa Anda nikmati mulai dari kuliner kaki lima, di tempat lain menyebutnya sebagai angkringan, kalau di Solo disebutnya dengan  “HIK” singkatan dari Hidangan Istimewa Kampung dengan ciri khas masing-masing. Ada Tengkleng yang sudah melegenda, Selat, Nasi Liwet, Sate Kere, Sate Buntel, Cabuk Rambak, Serabi Notosuman, Dawet Telasih, dan masih banyak yang lainnya.

Kuliner telah menjadi bagian tak terpisahkan, bahkan daya tarik pariwisata yang begitu menjanjikan. Selain sebagai sarana mengenalkan ragam masakan khas nusantara, kuliner juga menjadi identitas dari sebuah daerah. 

Sebagai surganya kuliner, Pemerintah kota Solo mendukung dengan menggelar Solo Indonesia Culinary Festival (SICF) 2017. SICF sendiri telah beberapa kali diadakan dan sudah masuk kalender event tahunan kota Solo.  SICF ini kemarin berlangsung selama 4 (empat) hari dari tanggal 6 - 9 April 2017.

Dalam Solo Indonesia Culinary Festival dihadirkan berbagai macam kuliner tempo dulu dan juga kuliner kekinian. Ada festival kue putu, festival tengkleng, festival sate kere dan acara pendukung lainnya.

Yang khas dari kue putu yakni suara “Tuuuuut” suara yang keluar saat memasak kue putu yang berasal dari uap yang terhimpit bambu. Cita rasa kue putu yang legit dan manis dari lelahan gula Jawa dan gurih dari parutan kelapa mengungah selera pengunjung untuk mendatanginya. Saat ini sudah jarang pedagang yang menjajakan kue putu secara berkeliling.


Dalam gelaran Solo Indonesia Culinary Festival juga ada acara makan dengan cara “kembul bujono” yang saat ini sedang ngehits. Acara makan bersama beralaskan daun pisang, dimana nasi beserta sayur dan lauk-pauknya disusun memanjang dan semuanya ditaruh diatas daun tersebut, kemudian dimakan secara bersama-sama.

Namun dibalik suksesnya Solo Indonesia Culinary Festival ini ada beberapa catatan yang patut menjadi pertimbangan panitia :
1. Kuliner tradisional cuma sedikit. Saya akhirnya harus 'patah hati' tidak menemukan kuliner kekunoan yang saya cari.
2. Pengunjung membludak namun kursi yang disiapkan masih kurang. Di hari pertama saya masih kebagian kursi untuk menikmati hidangan, namun di 2 hari kemudian saat saya kesana lagi saya kesulitan mendapatkan kursi sehingga mengurungkan niat makan malam disana dan terpaksa kuliner di wedangan dan resto cepat saji di depan stadion Manahan.
3. Sampah masih menjadi pemandangan setiap ada event di Solo. Perlu manajemen sampah yang lebih baik untuk kenyamanan bersama.

Sukses untuk Solo Culinary Festival 2017, sukses untuk kota Solo.







Previous Post
Next Post

post written by:

2 comments:

  1. Mkn d daun dh SMP solo jg y sy pikir booming d jkt aj, rata2 tiap event d mnpun pst ninggalin smph hrs bljr bnyk d daerah aagym Bandung

    ReplyDelete

Monggo dipersilahkan kalau mau komentar