19 February 2017

Tari Kolosal Adeging Kutha Solo, Upaya Mengenang Kembali Sejarah Kota Solo


Kemarin kami berkesempatan menyaksikan langsung pagelaran tari kolosal Adeging Kutho Solo. Pagelaran ini dimeriahkan dengan Kirab Boyong Kedaton dalam rangka memperingati hari jadi Kota Solo yang ke 272 yang jatuh pada tanggal 17 Februari 2017.

Dikisahkan pada jaman dahulu Keraton Kartasura terjadi huru hara, adanya peperangan menyebabkan Keraton Kartasura porak-poranda karena Belanda.
Awal pertunjukan yakni  terjadinya peperangan antara pasukan Kraton Kartasura dengan pasukan Belanda.

“Kraton Kartasura kui mobat-mabit diobrak-abrik londo” kata Kiai Khalifah Buyut kepada belasan anak-anak. Kanjeng Sinuhun Paku Buwo II ngutus Pangeran Mijil golek sisik melik kanggo mbangun kraton meneh, Pangeran Mijil mlaku ngetan, ngetan terus tekan Desa Sala [ Kanjeng Sinuhun mengutus Pangeran Mijil untuk mencari daerah baru untuk membangun keraton lagi. Pangeran Mijil berjalan kerah timur terus sampai menemukan Desa Sala]

“Tekan Desa Sala. Pengin ngerti kaya apa rupane Desa Sala ?” “Pengin jawab anak-anak. Ayo tak critani, tapi ra neng kene, neng ngisor wit ringin kui  [Sampai desa Sala. Ingin tahu tentang Desa Sala?. Ayo saya ceritakan tapi tidak disini, disana dibawah pohon beringin].

Adegan selanjutnya anak-anak berkumpul mengelilingi Kiai Khalifah Buyut, disekitar anak-anak ada beberapa penari mempertontonkan tari sapu, disusul kemudian dengan penari tenggok dan penari caping. Pada bagian ini menunjukkan gotong-royong masyarakat membangun Keraton Solo.
Dalam perjalananya pembangunan Keraton Solo mengalami kendala karena Desa Sala merupakan wilayah rawa yang banyak air sehingga sulit dikeringkan. Kemudian Kiai Buyut menemui Ki Gedhe Sala.

“Kene ki bakal dadi kutha sing gedhe, kutha sing tentrem, kutha sing aman [Sini nantinya akan menjadi kota yang besar , kota yang tentrem dan kota yang aman],” kata Ki Gedhe Sala.

“Ning ana syarat sarana sing kudu dilakoni. Sepisan gong sekar delima, Pindho sirah tledhek lan kaping telu ron lumbu” [ tapi ada syaratnya yaitu yang pertama sekar delima, kedua kepala penari dan yang ketiga daun talas]. Kemudian syarat tersebut dipenuhi oleh Kiai Buyut.

Dalam kesempatan tersebut bapak Rudy [Walikota Solo F.X. Hadi Rudyatmo], menjelaskan bahwa makna syarat yang diajukan Ki Gedhe Sala sebagai perlambang. Gong dimaknai sebagai ucapan yang baik seperti bunga yang semerbak wangi baunya, selanjutnya kepala penari itu berarti tontonan bukan kepala penarinya. Untuk membangun Kota Solo yang menjadi pusat kebudayaan dan pusat Nusantara, masyarakat harus membangun budaya gotong royong.

Pertunjukan selanjutnya, seluruh penari menari kolosal melambangkan kemeriahan berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Selanjutnya Paku Buwono II  (yang diperankan Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Puger, Plt. Raja Keraton Kasunanan Solo) hadir diantara penari kemudian mendeklarasikan Desa Sala sebagai pusat pemerintahan dengan nama Surakarta Hadiningrat pada 17 Februari 1745.

Setelah acara tarian kolosal, selanjutnya giliran peserta rombongan Kirab Boyong Kedaton melintas dan mempertontonkan aksinya. Rombongan pertama drumband dari pemkot Solo, prajurit Kraton Solo dilanjutkan dengan rombongan kereta kencana yang menggambarkan suasana perjalanan kepindahan dari Kraton Kartasura ke Kraton Solo diikuti rombongan yang menggambarkan warga yang membawa serta barang dan juga peliharaannya ke tempat yang baru. Kirab Boyong Kedaton dimeriahkan oleh partisipasi sekolah yang mengirimkan perwakilannya dan juga sanggar kesenian. Hadir dalam acara tersebut masyarakat Hindu. Tak kalah ketinggalan barongsai turut serta memeriahkan Kirab Boyong Kedaton.

Itulah sedikit selayang pandang  event Tari Kolosal Adeging Kota Solo. Ayo ke Solo, banyak acara menanti anda.






Previous Post
Next Post

post written by:

0 comments:

Monggo dipersilahkan kalau mau komentar