07 December 2017

Udhik-udhik, Tradisi Unik Sekaten Jogja


Minggu kemarin saya berkesempatan melihat langsung tradisi udhik-udhik gelaran Kraton Ngayogyakarta. Tradisi udhik-udhik ini merupakan rangkaian acara Perayaan Sekaten. Tradisi udhik-udhik ini merupakan bagian dari Kondur Gangsa.

Kondur gongso sendiri merupakan prosesi pemulangan kembali dua gamelan pusaka yakni Kyai Gunturmadu dan Kyai Nagawila dari Pagongan Masjid Gedhe ke dalam Keraton, setelah selama 5 hari gamelan di ditempatkan dan dibunyikan di Pagongan Masjid Gedhe Kauman.

Sebelum prosesi Kondur Gangsa dimulai, Sri Sultan Hamengkubuwono X akan menyebarkan udhik-udhik di Pagongan Lor dan Kidul masjid Gedhe. Udhik-udhik yang disebar terdiri dari beras, bunga dan uang logam.

Sejak sore hari masyarakat mulai memadati area depan Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Kami sengaja datang ke Masjid Gedhe lebih awal untuk memastikan kami bisa masuk ke dalam Masjid Gedhe Kauman, secara yang kami tahu pintu masuk terdekat yang dari depan masjid.

Setelah masuk kedalam, kita berkeliling sebentar dan menuju ke Pagongan Lor menunggu prosesi udhik-udhik tiba. Kita sempet masuk dan duduk-duduk didalam Pagongan yang ternyata didalamnya sudah lumayan penuh orang. Sebelum akhirnya kita semua harus meninggalkan ruangan tersebut.



Saya sempat berbincang dengan beberapa orang saat sama-sama duduk di dalam Pagongan. Ternyata mereka datang dari luar kota khusus untuk menunggu udhik-udhik dari Sultan. Ada yang dari semalem sudah sampai di Masjid Gedhe, dan mereka rela menginap di masjid hanya untuk menunggu udhik-udhik dari Sultan. Ibu yang berasal dari Pati bercerita kalau dia bersama suaminya selalu datang tiap tahun untuk menunggu prosesi ini. Mereka kebanyakan datang berombongan dari luar kota dengan bis atau angkutan lainnya.

Karena masih lama acaranya dan perut sudah minta diisi alias lapar, kita akhirnya makan dulu. Kita memutuskan untuk makan sego gurih. Nah katanya, kita belum bisa dikatakan nonton sekaten kalau belum mencicipi sego gurih.

Sego gurih merupakan menu spesial khas Jogja yang ada secara khusus cuma saat acara  Miyos Gangsa (keluarnya gamelan dari Keraton menuju Masjid Gedhe) sampai Kondur Gangsa.

Sego gurih adalah nasi yang dimasak dengan santan, garam dan daun salam. Menurut penuturan ibu penjualnya, untuk memasak sego gurih memerlukan beberapa tahapan sehingga menghasilkan nasi yang pas dan tidak lembek. Prosesnya hampir mirip dengan membuat nasi kuning.



Untuk komposisi sego gurih cukup banyak dimana terdiri dari nasi gurih, kedelai hitam, kedelai putih, kacang tanah, bawang goreng, ebi goreng, sambal goreng krecek, daging ingkung suwir, telur goreng, telur bumbu opor, kemangi, irisan kobis, mentimun serta peyek atau krupuk. Karena jumlah lauk ada bermacam-macam penyajiannya dalam sego gurih hanya sedikit demi sedikit sehingga tidak terlihat jenis lauk yang dominan.

Sego gurih lengkap dengan telur bumbu opor bisa didapatkan dengan harga Rp. 13.000,-. Kalau tanpa telur bumbu opor cukup membayar Rp. 7.000,-.

Setelah perut kenyang dan adzan magrib tiba, kita sholat dulu. Tadinya bingung lewat mana kedalam masjidnya karena pintu masjid yang dari depan ditutup dan dikunci. Ternyata kita harus memutar lewat pintu sebelah utara untuk masuk ke masjid.

Sekembalinya dari masjid, pelataran Masjid Gedhe semakin rame oleh orang yang berdatangan untuk menyaksikan prosesi udhik-udhik dari Sultan. Selepas isya, prajurit Keraton yang mengenakan baju warna merah serta membawa tombak mulai tampak datang dihalaman Masjid Gedhe Kauman, dan mereka langsung bersiap membuat pagar betis bersiap menyambut kedatangan Sultan.



Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba. Sekitar pukul 8 malam Sri Sultan Hamengku Buwono X tiba di Pelataran Masjid Gedhe. Masyarakat yang tadinya masih rapi, ketika Sri Sultan tiba seketika berdesak-desakan maju ke depan Pagongan agar bisa mendapatkan udhik-udhik dari Sultan. Mereka berebutan untuk mendapatkannya, bahkan ada nenek-nenek yang hampir jatuh dan terhimpit saat berebutan. Tika yang berada didekat nenek tersebut meminta tolong polisi untuk membantu nenek tersebut. Akhirnya si nenek dibopong keluar dari kerumunan orang.

Saya sendiri tidak ikut dalam rebutan udhik-udhik Sultan, walaupun sebenarnya ada koin yang mengarah kesamping saya, karena kurang cepat mengambilnya akhirnya yang beruntung mendapatkanya yakni prajurit keraton samping tempat saya berdiri.
Setelah menyebar udhik-udhik Sri Sultan menuju ke serambi Masjid Gedhe untuk mendengarkan riwayat Nabi Muhammad SAW. Saya pun mencari saudara saya. Dan ternyata si kakak yang mendapatkan satu koin dari Sultan.

Perayaan Sekaten tahun ini istimewa karena bertepatan dengan tahun Dal (tahun yang datang setiap 8 tahun sekali). Biasanya setelah selesai acara pembacaan riwayat Nabi Muhammmad SAW, Sri Sultan Hamengku Buwono X akan langsung meninggalkan masjid menuju ke keraton.

Di tahun Dal, Sri Sultan akan menjejakkan kaki ke tembok bata di pintu selatan Masjid Gedhe sebelum menuju ke keraton. Upacara ini dikenal dengan Njejak Beteng.


Berhubung kakak yang sudah meminta untuk segera pulang akhirnya kita keluar masjid memutar lewat jalan perkampungan warga karena pintu depan dan utara masih dikunci. Dijalan dekat pintu keluar masjid bagian selatan kami sempet tertahan susah untuk berjalan karena banyaknya orang yang berkumpul menunggu Sri Sultan untuk Njejak Beteng.





15 June 2017

Solo Pluffy, Klangenan Baru Kota Solo

Solo merupakan kota budaya, kota wisata dan kota kuliner yang kaya akan beragam jenis makanan yang kaya rasa dan menggugah selera untuk diburu dan dicari para penggemarnya. Beragam makanan khas kota Solo siap menjamu lidah anda. Sebagai kota wisata tentunya pengunjung  yang berkunjung  ke kota Solo ketika pulang akan membawa oleh-oleh.

Oleh-oleh khas kota Solo yang paling banyak dicari salah satunya adalah Intip. Kita bisa membelinya di pasar Klewer atau pasar lainnya serta hampir di setiap gerai oleh-oleh. Intip goreng sendiri merupakan cemilan yang terbuat dari kerak nasi. Proses pembuatannya yakni dengan cara menjemur nasi putih yang sebelumnya sudah masak dan kemudian dibentuk bulat pipih. Setelah dijemur, intip akan digoreng dalam minyak yang panas. Selanjunya intip yang telah digoreng dibumbui dengan gula jawa, bawang putih dan sedikit garam. Intip goreng tersedia dalam rasa dua rasa yakni manis dan gurih.

Satu lagi yang banyak dicari sebagai oleh-oleh khas Solo yakni serabi. Yang legendaris yakni Serabi Notosuman. Serabi Solo terbuat dari campuran tepung beras dan santan kelapa, dan cara memasaknya hanya dimasak diatas tungku yang membuat cita rasa yang khas. Rasa yang terus dijaga dari generasi ke generasi membuatnya tetap digemari.

Selain Intip goreng dan Serabi Notosuman, ada Ampyang, cemilan manis yang terbuat dari kacang tanah yang dibalut dengan gula Jawa. Ada juga Roti Kecik Ganep, merupakan kue kering khas kota Solo yang sudah ada sejak lama sekitar tahun 1881. Bentuknya panjang dan lonjong seperti ibu jari dan memiliki rasa yang renyah. Selain itu masih banyak jenis oleh-oleh khas kota Solo yang bisa menjadi buah tangan ketika berkunjung ke Solo.


Nah untuk melengkapi ragam oleh-oleh khas kota Solo, kini hadir Solo Pluffy sebagai oleh-oleh kekinian. Solo Pluffy hadir dirancang untuk memberikan alternatif oleh-oleh kekinian kota Solo. Solo Pluffy hadir untuk menjadi kesukaan dimasa kini dan kecintaan hingga masa mendatang.

Bertempat di Amaris Hotel, pada hari Sabtu 10 Juni 2017 kemarin, Artis  cantik Jessica Mila memperkenalkan bisnis terbarunya yakni Solo Pluffy  kepada Media dan Food Blogger Gathering Kota Solo.  Dalam acara launching tersebut Jessica Mila mengajak serta Ricky Harun dan Herfiza Novianti, sahabatnya yang telah lebih dulu terjun di bisnis kuliner. Acaranya berlangsung meriah dan rekan-rekan media serta blogger dan undangan lainnya sangat antusias mendengarkan penjelasan dari Jessica Mila.

Nah kenapa Jessica Mila memilih kota Solo sebagai tempat untuk bisnisnya?

Jessica Mila menuturkan, alasan memilih kota Solo karena selain kota Solo merupakan kota tujuan wisata yang tentunya selalu ramai dikunjungi wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara, kota Solo sendiri mempunyai satu cerita bagi Jessica Mila. Solo merupakan kota kelahiran dari Ayah Jessica Mila. Jessica Mila ingin menjadikan Solo Pluffy sebagai kado untuk Ayahnya sekaligus menjadi wadah untuk menyapa dan bersilaturahmi dengan para penggemarnya.



Dengan tagline “Klangenan Kota Solo”, serta adanya tulisan dalam kemasannya “Selamat menikmati rasa manis dari sekotak cinta dan bahagia dari Jessica”, Jessica Mila berharap Solo Pluffy bisa menjadi salah satu alasan kerinduan yang  memberikan cinta dan bahagia bagi para sahabat, keluarga dan wisatawan yang berkunjung ke kota Solo untuk kembali mengunjungi kota Solo.

Untuk pemilihan nama Pluffy, sebenarnya berasal dari kata Fluffy yang artinya halus tutur Jessica. Jessica Mila berharap Solo Pluffy bisa meyuguhkan yang terbaik bagi penikmat kuenya.
Solo Pluffy sendiri merupakan cake yang mempunyai tekstur yang soft, rasanya lembut banget serta manisnya pas sehingga semua orang bisa menikmatinya dari anak-anak sampai orang tua. Karena tidak terlalu manis Solo Pluffy aman bagi bagi penderita diabetes tutur Ricky Harun.

Nah untuk  varian rasanya ada enam macam yaitu Original, Greentea Cornflakes, Cheese, Chocco Crunchy dan Blueberry. Kemarin saat launching kami berkesempatan untuk mencoba rasa Greentea Cornflakes, Cheese dan Chocco Crunchy. Saat mencobanya, hemm yummy..., cakenya rasanya lembut dimulut dan ada crunchynya saat kita mengunyahnya. Dan untuk rasa manisnya menurut saya pas tidak kurang manis atau terlalu manis. Dan dari ketiga yang dicoba, menurut saya Greentea Cornflakes juaranya ....


Solo Pluffy sendiri pada Sabtu sore juga mengadakan acara Meet and Greet yang bertempat di Solo Square. Acara ini bertujuan selain untuk mengenalkan Solo Pluffy juga untuk bersilaturahmi dan menyapa penggemar yang ada di kota Solo.

Penasaran dengan rasanya? Saya sih penasaran ingin mencoba rasa yang original, yang menurut Jessica Mila merupakan favoritnya. Jika anda penasaran dan ingin mencobanya, tak perlu lama menunggu karena mulai tanggal 16 Juni 2017 Solo Pluffy hadir di kota Solo. 

Jadi kalau ditanya pilih mana antara serabi dan Solo Plaffy?
Serabi dan Solo Pluffy itu ibarat aku dan kamu, saling melengkapi #ea

*****
SOLO PLUFFY
Jl. Ronggowarsito No. 145 Surakarta





12 May 2017

Kampung Kolang-Kaling dan Trabas Trail Desa Wisata Jatirejo Semarang

Kolang-kaling, buah yang menjadi primadona saat bulan Ramadan, yang sebentar lagi tiba. Kolang-kaling seakan menjadi menu wajib untuk berbuka puasa dalam berbagai macam olahan kreasi kuliner untuk berbuka puasa. Biasanya kolang-kaling ada dalam kolak, campuran es atau manisan.

Kolang-kaling sendiri berasal dari pohon aren atau enau (Arenga Pinnata). Kolang-kaling memiliki khasiat dan manfaat yang banyak untuk kesehatan. Kolang-kaling kaya akan kandungan vitamin A, Vitamin B dan Vitamin C, selain itu juga banyak mengandung protein dan karbohidrat, serta berbagai mineral seperti potasium, besi dan kalsium.

Di kota Semarang, ada sentra pembuatan kolang-kaling yakni di desa Jatirejo yang dikenal dengan nama Kampung “KAKOLA” Kampung Kolang-kaling Desa Wisata Jatirejo. Kemarin kami diajak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang beserta Badan Promosi Pariwisata Kota Semarang (BP2KS) untuk mengunjunginya dalam rangkaian Famtrip Blogger 2017 dengan tema Telusur Pesona Deswita Semarang. Kampung KAKOLA sendiri berada di desa Jatirejo RT 03 RW 01 Kelurahan Jatirejo, kecamatan Gunungpati Kota Semarang. 


Begitu turun dari bus dan masuk ke lokasi, kita langsung disuguhi minuman dari kolang-kaling beserta aneka gorengan dan cemilan, padahal sebelum kesini kita baru saja selesai makan siang di dermaga Suko Makmur Waduk Jatibarang. Walaupun perut masih kenyang, tak apalah menikmatinya... toh mereka sudah sibuk menyiapkannya.



Untuk menjadikan buah dari pohon aren menjadi kolang-kaling ternyata butuh proses yang panjang dan melelahkan lho...

Prosesnya pertama dimulai dari pemanen dari pohon, dimana agar mendapatkan hasil kolang-kaling yang bagus dan empuk harus dari buah yang masih muda dan tidak terlalu tua. Setelah buahnya dipetik, buahnya harus dilepaskan dahulu dari tangkai/tandannya  kemudian harus direbus sekitar 2-3 jam dalam tungku panas agar buahnya bisa dikupas dan didapatkan buah kolang-kalingnya.



Setelah proses perebusan dan pengupasan kolang-kaling harus direndam dulu selama satu hari satu malam baru bisa dipipihkan. Menurut penuturan salah satu ibu yang bekerja disini, dalam sehari satu orang bisa memipihkan kolang-kaling sekitar tiga ember drum. Satu ember drum beratnya sekitar 25 kilogram. Untuk jam kerjanya sendiri menurut pengelola dimulai sekitar jam 7 atau 8 pagi sampai jam 4 sore, fleksibel mengikuti permintaan, tetapi terkadang kalau permintaan sedang banyak-banyaknya seperti menjelang bulan puasa pada saat ini, mereka  bisa menambah jam kerjanya untuk memenuhi pesanan.


Kolang-kaling yang sudah dipipihkan kemudian direndam didalam air, proses perendaman bisa memakan waktu antara 2-3 hari lamanya untuk mendapatkan kolang-kaling yang siap untuk dijual. Dalam proses perendaman tersebut kolang-kaling perlu diaduk-aduk dan airnya tiap hari harus diganti agar kolang-kaling yang dihasilkan bagus dan empuk.


Selain kolang-kaling, ibu-ibu disini juga menanam empon-empon seperti jahe, kunyit, kencur dan masih banyak yang lain. Ibu-ibu juga membuat aneka keripik untuk dijual sebagai oleh-oleh khas desa wisata Jatirejo.



Menurut penuturan ibu  Ninik yang menjabat Sekretaris Pokdarwis Jatilanggeng, saat ini desa Jatirejo masih menunggu turunnya SK dari Walikota Semarang yang menyatakan bahwa desa Jatirejo menjadi Desa Wisata.

Setelah  kita melihat proses pembuatan kolang-kaling, kemudian kita diajak untuk menikmati pemandangan dari sudut yang lain Waduk Jatibarang dengan cara mengendarai motor trail yang dikemas dengan nama Trabas desa wisata Jatirejo. Bagi yang berani mengendari motor trail sendiri dipersilahkan, kalau saya sendiri sih membonceng saja...


Awalnya jalan yang dilalui merupakan jalan desa yang berpaving. Setelah jalan berpaving habis barulah melewati medan yang sebenarnya. Kita diajak melewati kebun-kebun warga dengan jalanan yang menerabas semak-semak dan jalur tanah yang licin dengan turunan dan tanjakannya. Sebenernya kepikiran untuk merekamnya, namun tidak berani karena kita pegangan aja udah takut... maklum ini pengalaman pertama saya naik motor trail...

Mendekati tempat finis, motor yang saya boncengi mendadak mesinnya mati, dan itu pas dijalanan menurun yang cukup sempit. Otomatis motor yang dibelakangnya ikut berhenti. Saya pun memutuskan untuk jalan kaki saja karena sudah dekat.


Menurut penuturan salah satu pengendara, jalur yang kami lalui masih merupakan track yang ringan belum yang extream. Kalau yang ekstream jalurnya bisa langsung sampai ke bagian bawah Waduk Jatibarang, namun karena sebelumnya turun hujan dan jalur menjadi licin sehingga berbahaya kalau dilewati.

Habis dari desa wisata Jatirejo, kemudian kita menuju ke hotel Pandanaran untuk cek in dan istirahat sebentar karena malamnya secara khusus kita diundang untuk menghadiri Resepsi Hari Jadi ke-470 Kota Semarang di Balaikota Semarang.

Selamat Ulang Tahun Kota Semarang yang ke-470. #SemarangHebat




09 May 2017

Feeding Monkey dan Cerita Dibalik Nama Gua Kreo

Pagi-pagi sebelum adzan subuh berkumandang, kami pun sudah mulai bersiap berangkat menuju kota Semarang untuk mengikuti acara Famtrip Blogger 2017 yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kota Semarang dan Badan Promosi Pariwisata Kota Semarang (BP2KS). Selesai sholat subuh dan berkemas kita segera meluncur menuju ke stasiun. Ditemani kabut yang cukup pekat pagi ini motorpun melaju kearah stasiun Purwosari. Sampai distasiun, saya buru-buru menuju ke loket pembelian tiket dan memesan tiket untuk keberangkatan ke Semarang. Dan ternyata..., sekarang stasiun keberangkatan kereta Kalijaga dari Solo cuma dari stasiun Solo Balapan, cepat-cepatlah lari keparkiran  mengambil motor dan segera meluncur ke stasiun Solo Balapan.

Dengan agak tergesa kita menuju ke stasiun Solo Balapan, setelah memarkir kendaraan buru-buru kita ke loket karcis. Cukup membayar Rp. 10.000,- perorang untuk perjalanan Solo – Semarang. Untunglah tidak ketinggalan kereta.., ini perjalanan pertama ke Semarang naik kereta. Tuut tuuuuut... tepat pukul 5.20 wib, kereta berangkat dari stasiun Solo Balapan.

Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam akhirnya tiba juga di stasiun Poncol. Kami telah ditunggu oleh tim penjemput yakni mba Nila dari Asita Semarang, di mobil jemputan sudah ada temen blogger dari Jogja dan Bima yang  sudah duluan tiba di Semarang. Kita langsung diantar ke Soto Pak Min untuk sarapan. 

Perut kenyang dan siap untuk trip hari ini. Temen-temen lainnya juga sudah tiba dan sudah selesai sarapan. Kini saatnya, kita meluncur ke Taman Wisata Waduk Jatibarang karena kita telah ditunggu oleh monyet-monyet yang kelaparan... kasian kalau kelamaan menunggu....

Yap, trip pertama kita yakni “feeding monkey”. Sekitar tiga puluh menit perjalanan, bus yang mengantar kita ke Taman Wisata Waduk Jatibarang tiba. Begitu turun dari bus kita langsung disambut oleh monyet-monyet ekor panjang penguasa waduk jati barang dan juga Gua Kreo. Mereka tak sabar menanti kita...

Disana sudah dipersiapkan bambu yang siap didirikan oleh pengelola semacam untuk panjat pinang yang berisi  berbagai macam makanan dan minuman untuk monyet ekor panjang. Monyet-monyet tersebut sudah tidak sabar menunggu sampai bambunya berdiri, mereka sudah mulai menyerbu makanan yang ada.

Bambu pun berdiri tegak, saatnya kita menonton atraksi panjat pinang monyet. Awalnya masih malu-malu, tetapi begitu ada yang memulai naik ke bambu, monyet-monyet yang lainnya langsung ikut menyusul menyerbu makanan dan minuman.
Puluhan kera ekor panjang sedang panjat pinang

Moyet/kera ekor panjang sedang meniti tali menuju bambu
untuk menikmati makanan dan minuman yang sudah disediakan

Salah satu monyet/kera ekor panjang sedang memberi makan anaknya

Temen-temen blogger peserta famtrip blogger 2017 sedang mengabadikan
atraksi feeding monkey
Melihat kelincahnya mereka naik-turun bambu dan tali-talinya, rasanya luar biasa, apalagi beberapa monyet yang naik-turun sambil mengendong anak mereka.  Ini pengalaman pertama saya melihat panjat pinang monyet. Ada juga monyet yang hanya menunggu dibawah berharap kemurahan hati teman-temannya yang diatas.

Tentunya atraksi ini tidak bermaksud untuk mengeksploitasi monyet ya, tapi sebaliknya yakni memberi mereka makan sesuai kebutuhan, karena kalau tidak dilakukan monyet-monyet ini akan menjarah kebun warga. Disini terdapat ratusan monyet ekor panjang yang terbagi menjadi tiga kelompok besar tutur pengelola. 

Trip hari pertama tanggal 5 Mei 2017 bertepatan dengan hari Jum’at, sambil menunggu temen-temen blogger cowok yang Jum’atan, kita lanjut mengeksplor Gua Kreo. Untuk menuju kesana, kita harus berjalan menyeberang jembatan  karena Gua Kreo berada di pulau kecil di tengah  Waduk Jatibarang. Didepan jembatan kita akan disambut oleh patung monyet di kanan kirinya. Tak hanya patungnya saja, yang asli juga ikut menyambut kita...
Jalan menuju ke Goa Kreo

Tampak seekor monyet yang sedang menunggu kita di jembatan


Gua Kreo

Menurut legenda, keberadaan Gua Kreo tak terpisahkan dari Sunan Kalijaga. Konon katanya Sunan Kalijaga mencari potongan kayu dari pohon jati yang akan digunakan untuk saka guru Masjid Agung Demak yang berada di lereng bukit Gombel. Namun, sewaktu akan diambil kayu jatinya, ternyata pohon jatinya sudah tidak ada. Sunan Kalijaga terus mencari keberadaan pohon jati tersebut sampai ke hutan yang saat ini dikenal sebagai kawasan Gua Kreo. Tempat asal keberadaan pohon jati yang berpindah itu diberi nama Jatingaleh yang berarti jati berpindah.

Keberadaan pohon jati yang dimaksud ternyata letaknya berada ditempat yang sulit untuk diambil. Hingga akhirnya datanglah empat ekor kera yang bersedia membantu Sunan Kalijaga untuk mengambil kayu jati yang dimaksud. Dengan senang hati Sunan Kalijaga menerima tawaran mereka. 

Ketika Sunan kalijaga bersama sahabat-sahabatnya hendak membawa kayu jati itu ke Demak, karena akan digunakan sebagai saka guru Masjid Agung Demak, kera-kera tersebut menyatakan diri hendak ikut serta membawa sampai ke Demak. Namun karena bukan manusia Sunan Kalijaga menolaknya, sebagai balas jasanya, kera-kera tersebut dihadiahi kawasan hutan di sekitar gua. Mereka diberi kewenangan ngreho (dalam bahasa Jawa)  yang mempunyai makna untuk menjaga atau memelihara kawasan tersebut. Dari kata ngreho, nama Gua Kreo berasal, dan sejak saat itu hingga sekarang kera-kera yang menghuni kawasan ini dianggap sebagai penjaga.



Jika kita mengeksplor sampai keatas bukit, kita akan menemukan semacam petilasan dari batu, Menurut kisahnya, batu tersebut tadinya berada dibawah air waduk Jatibarang. Sebelum batu tersebut diatas sering terjadi keanehan, seperti suara gaduh dari dalam waduk. Namun batu-batu tersebut ajaibnya bisa berada diatas dengan sendirinya. Dari atas bukit kita bisa menikmati pemandangan waduk Jatibarang dari sudut yang lain.

Semacam petilasan dari batu

Dulunya merupakan tempat penyimpanan air 

In frame Tariartika  (kue jahe) dan Mia kamila (jejakjelata)

View Waduk Jatibarang dari atas bukit Gua Kreo

Perjalanan trip pertama Famtrim Blogger 2017 diakhiri dengan makan siang di dermaga Suko Makmur Waduk Jatibarang. Menurut rencana kita seharusnya memancing ikan dulu baru bisa makan siang, namun sampai disana sudah tersedia menu makan siang lengkap dengan olahan ikan waduk Jatibarang dengan ukuran yang jumbo, plus lalap dan sambalnya yang mantap. Tersedia juga aneka jus khas dermaga Suko Makmur dan juga minuman lainnya. 

Menu makan siang day 1 famtrip blogger 2017


Foto bersama peserta famtrip di dermaga Suko Makmur Waduk Jatibarang
 (Formasi nyaris lengkap kurang 2 peserta yang dari Kuala Lumpur)